Senin, 13 Februari 2023

UI/UX dan Psikologi

 

UI/UX Dalam Perspektif Psikologi

 Saat ini banyak bidang pekerjaan baru yang bermunculan di Indonesia. Hal tersebut tidak lain dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang pesat. Salah satunya adalah UI/UX designer, kepanjangan UI sendiri adalah user interface, yaitu merujuk pada bagaimana tampilan sebuah website tersebut (desain webnya), sedangkan untuk UX sendiri adalah user experience, elemen tersebut memiliki fungsi sebagai “pelengkap” dari tampilan website. UX sendiri berfokus pada kepuasan atau pengalaman pengguna ketika mereka menggunakan website tersebut. Oleh karena itu, pekerjaan UX itu berhubungan dengan usaha untuk meningkatkan kemudahan akses dan penggunaan website tersebut agar user bisa menggunakan website tersebut tanpa kebingungan dan kesusahan. Kalau kalian ingin mempelajari UI/UX secara mendalam kalian bisa mampir ke Kursus Online Arkademi di Kursus UI UX Bagi Pemula

 Ada hal menarik yang bisa dipelajari dari UI/UX, yaitu ternyata mereka erat hubungannya dengan psikologi. Beberapa dari kita belum banyak mengetahui bahwa psikologi bisa menjadi teori dalam membantu kita membuat desain UI/UX. Salah satu faktor internal yang membuat seorang user ketagihan memakai sebuah website adalah mereka merasa senang atau gembira ketika atau setelah mengunjungi website tersebut. Hal itu menjadi pertimbangan untuk seorang UI/UX designer dalam membuat desain mereka, hendaknya untuk membuat desain yang memiliki kesan positif agar para user juga memberikan umpan balik berupa komentar positif, saran maupun penilaian yang baik terhadap website tersebut karena efek respon psikologi mereka.

 Dalam membangun website yang memiliki kesan positif, para UI/UX designer juga dapat menggunakan teori Color Psychology. Color Psychology adalah pemilihan warna untuk sebuah desain berdasarkan ciri khas dan nilai warna itu sendiri, misalnya warna merah menggambarkan bahaya sedangkan biru melambangkan terpercaya. Untuk arti warna lainnya kalian bisa lihat tabel di bawah ini.

Warna

Arti

Merah

Keberaniankekuatan dan kegembiraan.

Biru

Keharmonisanketenangan dan kedamaian

Kuning

Kehangatanoptimisme dan semangat

Hijau

Keseimbangan dan memberikan efek relaksasi

Orange

Harapan dan kepercayaan diri

Hitam

Misteriberani dan dominan

Putih

Kesuciansteril dan netral

Cokelat

Canggihmahal dan elegan

Ungu

Kemewahan dan elegan

Pink

Feminimlembut dan romantis

 Tak hanya bisa digunakan dalam mendesain UI nya saja, psikologi juga ternyata berhubungan dengan UX. Hal itu disebabkan karena bidang tersebut mempelajari tingkah laku konsumen dan menggunakannya untuk riset apa yang menjadi kebutuhan konsumen yang bisa digunakan untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Oleh sebab itu dunia UX bisa menjadi pilihan karier bagi para mahasiswa lulusan psikologi, tak harus melulu untuk menjadi praktisi di dunia medis dan sumber daya manusia.

 Kemudian, profesi apa saja yang bisa menjadi pilihan karier bagi para lulusan psikologi di dunia UX? Berikut ulasannya.

1. UX writer

 Pekerjaan ini cocok untuk lulusan psikologi yang hobi menulis, bisa dibilang pekerjaan ini adalah gabungan dari psikolog dan penulis. Penggunaan empati sangat diperlukan bagi seorang UX writer agar mereka dapat membuat konten tulisan yang bisa memancing emosi pengguna.

2. UX designer

 UX designer adalah profesi yang mayoritas menjadi pilihan bagi para lulusan desain grafis saat ini. Akan tetapi, lulusan psikologi juga dapat menjadi seorang UX designer. Terutama bagi kalian yang mendalami psikologi desain.

3. UX Researcher

 Untuk kalian yang suka riset dan eksperimen, UX researcher bisa menjadi pilihan profesi yang tepat. Skill untuk penelitian empiris, desain eksperimental dan memangkas bias sangat diperlukan dalam dunia UX research.

 Pengujian dalam UX research tak jauh berbeda dengan yang dilakukan pada penelitian psikologi. Pengujian dilakukan dengan meminta user untuk melakukan sesuatu kemudian diamati bagaimana respons mereka, terakhir membuat kesimpulan dari hasil tes. Hasil tes tersebut bisa digunakan untuk evaluasi atau pengembangan fitur selanjutnya.

 UX research juga mengeksplor motivasi pengguna. Mempelajari mental pengguna adalah aspek utama dalam proses pengujian. Lewat pendekatan ini kalian dapat memahami motivasi dan loyalitas user kepada produk.

 Apa kalian tertarik untuk bekerja di bidang UI/UX? Kalau kalian juga ingin tahu bidang pekerjaan baru lainnya, yuk langsung saja kunjungi https://arkademi.com

Ayo Alih Karir dan Ganti Profesi bersama Arkademi !!!



Sabtu, 11 Februari 2023

Toxic Friend, Salah Satu Penyebab Gangguan Mental

 

Waspada Terhadap Teman yang Tidak Suportif Bahkan Toxic

Pixabay.com

    Teman adalah salah satu orang terdekat kita selain keluarga dan saudara. Semua orang pasti menginginkan untuk memiliki teman yang positif dan selalu mendukung atau memotivasi kita. Namun, tak jarang juga beberapa teman kita yang tidak positif dan jarang mendukung bahkan meremehkan kemampuan kita. Teman memang bagaikan pisau bermata dua, alias bisa memberikan dampak positif, namun  juga bisa memberikan dampak negatif. Tidak bisa dibohongi, lingkungan pertemanan saat berpengaruh kepada perilaku kita dan bahkan akan menjadi apa kita nanti juga bisa dipengaruhi oleh faktor pertemanan. Maka dari itu, hendaknya kita pintar dalam memilih teman, bukan berarti kita harus pilih-pilih dalam berteman. Namun, lebih baik kita memilih teman yang memberikan manfaat untuk kita ke depannya daripada teman yang dengki dengan kita apalagi sampai merundung secara verbal maupun fisik. Karena teman yang seperti itu berbahaya bagi kita.

Teman negative yang tidak suportif bahkan toxic ternyata memiliki dampak yang buruk bagi pertemanan dan bahkan kita sendiri. Di Indonesia sendiri kasus Toxic Friend sudah banyak beredar. Hal tersebut tak lain dipengaruhi oleh lingkungan di Indonesia yang ternyata beberapa di antaranya tergolong toxic people. Menurut data, orang dengan gangguan jiwa bisa mencapai 9,8 persen, jumlah itu termasuk ke dalam jumlah orang yang toxic dalam pertemanan maupun lingkungan. 

Kita harus hati-hati jika memiliki Toxic Friend karena ada beberapa dampak negatifnya, antara lain:

1. Bisa mengganggu kesehatan mental kita.

Teman yang toxic terkadang suka menyakiti perasaan kita, entah lewat perkataannya atau sindirannya. Tak jarang pula mereka menghina kita lewat chat atau bahkan secara langsung. Penulis kerap kali menemukan teman yang suka berkomentar negatif ke temannya yang lain di media sosial. Hal tersebut pernah penulis alami dulu, pada saat itu teman penulis membalas komentar dengan kesan negatif di status Whats App penulis, ketikannya seperti ini “Aneh banget jadi orang, caper tau ga”. Hal tersebut bagi penulis agak menyakiti perasaan dan penulis rasa banyak juga kalian yang mengalaminya. Jadi, sudah jelas kalau Toxic Friend memang dapat berpengaruh buruk pada kesehatan mental kita. 

2. Menurunkan kepercayaan diri

Tanpa disadari Toxic Friend terkadang suka mengkritik apa yang telah kita capai atau lakukan. Yang menjadi masalah terkadang mereka memberikan kritik yang menjatuhkan ketimbang yang membangun. Hal tersebut sangat jelas membuat kita menjadi kurang percaya diri bahkan kehilangan kepercayaan diri secara perlahan-lahan.

3. Menimbulkan kecemasan

Memiliki teman yang toxic hanya akan membuat kita selalu merasa cemas. Hal itu dapat terjadi oleh hal-hal negatif yang telah mereka perbuat kepada kita dan juga karena mereka menilai kita rendah di mata mereka bahkan membuat kita merasa kalau tidak pantas berteman dengan mereka. Hal itulah yang membuat kita tidak nyaman yang akhirnya muncul rasa cemas pada diri kita.

Berdasarkan opini penulis di atas sudah jelas bukan kalau kita patut waspada terhadap Toxic Friend. Mereka hanya akan membuat kita merasa overthinking hingga kemudian menimbulkan rasa stress, jika itu terjadi secara terus-menerus maka tidak menutup kemungkinan akan merusak kesehatan mental kita. Ada baiknya memang menghidari tipikal teman yang seperti itu demi kesehatan mental kita karena kesehatan mental itu penting. Untuk mengetahui lebih lanjut apa kesehatan mental itu kamu bisa baca di sini ya https://www.blog.dearsenja.com/mental-health/apa-itu-mental-health-berikut-pengertian-menurut-para-ahli-dan-9-cara-menjaganya/

Nah itulah tadi blog penulis tentang pengaruh Toxic Friend terhadap kesehatan mental kita. Jika kalian juga ingin membuat blog pas banget nih, karena Dear Senja mengadakan lomba menulis blog, untuk info lebih lanjut kalian bisa mengunjungi https://www.dearsenja.com/ 

#DearSenjaBlogCompetition


UI/UX dan Psikologi

  UI/UX Dalam Perspektif Psikologi  Saat ini banyak bidang pekerjaan baru yang bermunculan di Indonesia. Hal tersebut tidak lain dipengaruhi...